Langsung ke konten utama

Postingan

PERKARA KITA

Bilamana saat kuucap kita, Apakah bisa didapati sebagai kata kerja, kata benda atau sekarang: dentingan kosong yang memekakan telinga, Iseng diketuk tanpa makna? Bilamana saat terucapkan aku, dapakah dimaknai sebagai bagian dari kolase kolateral harmoni di dalam kita atau sekedar lalu, lupa makna jumpa, mengejar masing-masing wajah yang ingin digagah? Bilamanakah kita kembali ke rahim ibu? Sendiri namun perlu selalu satu yang menampung hadirmu. Selalu Bergantung. Tapi sepertinya aku, kamu dia, mereka,-sebutkan semua kata ganti orang- mendadak lupa. Membusung dada namun gagap akan hadirnya kata kita,  sebagai kata keterangan. Menerangkan hangatnya memberi pelukan dan diberi pelukan.  Menyambut, disambut. Sebagai keterangan bahwa tak perlu perlombaan konyol di putaran bumi  -hakikatnya ia merupakan bola pejal yang berputar-putar- di angkasa yang tak terselami oleh akal insani. K. I. T. A
Postingan terbaru

Yang Disebut Tak Bergeming

Kehilangan, berapakalipun terulang, nyatanya tak pernah menjadi lebih mudah. Terbiasa ternyata tidak menjadikan semata mata emosi yang dikandung pikiran dan jiwamu menjadi hilang. Kita belajar menjadi kebal-beberapa memilih mematikan rasa- tapi sungguh kehilangan adalah guru yang kejam-namun baik dan perlu- bagi kita. Bertumbuh. Semata agar metamorfosis ini sempurna. Bicara Kehilangan, berkenalan aku dengannya di pertengahan tahun 2014 dengan keadaan yang paling menyakitkan yang pernah kutahu. Wajahnya keras, dingin, tak bergeming. Tak perlu dia bersuara sebab heningnya lebih memekakkan dari seisi stadion sepakbola ketika merayakan kemenangan jagoannya. Hadirnya mampu membuatmu terkesiap, was-was, merana. Sampai saat ini, kehilangan masih sering mengunjungiku. Ia masih sama. Keras, dingin dan tak bergeming, namun kini hadirnya tak lagi memerangkapku dalam lubang hampa udara yang menyesakkan. Ia telah menjadi tamu yang ku tahu niscaya akan selalu hadir dan tanpa prasangka. Mungkin diata...

ALIMAH (Dariku Untukmu)

Seperti Alimah pada Siti Nurbaya, Aku ingin berada disampingmu, mendengar dan mengamini setiap mimpi-mimpimu. Tak masuk akal kata mereka- biar saja, buta mereka itu- Yakin aku Padamu. Seperti Alimah pada Siti Nurbaya Mengagumi panggung dan semua sorot  cahaya lampu yang memandikanmu dengan gelimang cahaya megah. Berharap kau kan terus bersinar. Bersedia hadir walau hanya di balik layar. Seperti Alimah pada Siti Nurbaya. Aku ingin mengenalmu utuh tanpa perlu palsu. Menjadi penggemarmu yang nomor satu Menjelma jadi tanda baca dalam catatan mimpi-mimpimu Rumah tempat Engkau direngkuh nyaman. Aman. Sampai akhirnya kata-kata mengakhiri dirinya. Bukumu selesai.

Letter To Myself

 Dearest Mine, Me. Well. Hi.  It's Been a long time since my last visitation. A lot of things happened these few years. I don't even know where to start. Live has been quite fascinating. You might not believe me now. we've been through a lot. You are living a quiet simple life like you wanted. In a place, you've always prayed for. A lot of lessons you have to learn yet to come.  Oh, yaa... I lost my previous Blog. Articles I've written before are already gone. I am still upset but life goes on. we need to let it go right? so I decide to delete that blog and start another one. A new fresh step.  So here it is, my new Blog. I called it "TERAS RUMAH" since to me being at the terrace house gives you feeling like at home, where you can do the talk and simply enjoy life. I think doing journaling might bring you back to life. You used to love writing you know? You might be lost all excitement you've ever had these days but I'll be patient enough to wait f...