Bilamana saat kuucap kita, Apakah bisa didapati sebagai kata kerja, kata benda atau sekarang: dentingan kosong yang memekakan telinga, Iseng diketuk tanpa makna? Bilamana saat terucapkan aku, dapakah dimaknai sebagai bagian dari kolase kolateral harmoni di dalam kita atau sekedar lalu, lupa makna jumpa, mengejar masing-masing wajah yang ingin digagah? Bilamanakah kita kembali ke rahim ibu? Sendiri namun perlu selalu satu yang menampung hadirmu. Selalu Bergantung. Tapi sepertinya aku, kamu dia, mereka,-sebutkan semua kata ganti orang- mendadak lupa. Membusung dada namun gagap akan hadirnya kata kita, sebagai kata keterangan. Menerangkan hangatnya memberi pelukan dan diberi pelukan. Menyambut, disambut. Sebagai keterangan bahwa tak perlu perlombaan konyol di putaran bumi -hakikatnya ia merupakan bola pejal yang berputar-putar- di angkasa yang tak terselami oleh akal insani. K. I. T. A
Kehilangan, berapakalipun terulang, nyatanya tak pernah menjadi lebih mudah. Terbiasa ternyata tidak menjadikan semata mata emosi yang dikandung pikiran dan jiwamu menjadi hilang. Kita belajar menjadi kebal-beberapa memilih mematikan rasa- tapi sungguh kehilangan adalah guru yang kejam-namun baik dan perlu- bagi kita. Bertumbuh. Semata agar metamorfosis ini sempurna. Bicara Kehilangan, berkenalan aku dengannya di pertengahan tahun 2014 dengan keadaan yang paling menyakitkan yang pernah kutahu. Wajahnya keras, dingin, tak bergeming. Tak perlu dia bersuara sebab heningnya lebih memekakkan dari seisi stadion sepakbola ketika merayakan kemenangan jagoannya. Hadirnya mampu membuatmu terkesiap, was-was, merana. Sampai saat ini, kehilangan masih sering mengunjungiku. Ia masih sama. Keras, dingin dan tak bergeming, namun kini hadirnya tak lagi memerangkapku dalam lubang hampa udara yang menyesakkan. Ia telah menjadi tamu yang ku tahu niscaya akan selalu hadir dan tanpa prasangka. Mungkin diata...